Sunday, 4 October 2015

KAMU

Kenapa waktu selalu tidak tepat untuk kita? Saat rasa yang kumiliki masih sama, saat kamu mengungkapkan hal yang sama. Entah segalanya merupakan kebenaran atau hanya bualanmu saja. Aku tidak peduli, sungguh. Ketika kamu beri aku dua pilihan, hatiku memilihmu, namun akalku mengatakan sebaliknya. Tolong katakan padaku, apa yang seharusnya aku lakukan? Sesungguhnya aku tak rela, hatiku sesak, aku merasa kosong. Aku hanya ingin yang terbaik, tapi aku tidak tahu apa yang seharusnya kulakukan, Bukan maksudku mendua, bukan itikadku mencintai yang lain. Tapi ini adalah kamu, kamu orang yang pernah mencampakkanku, kini datang kembali dalam hidupku, dan mengungkapkan kata-kata yang tak terbayang olehku. Saat aku membuat keputusan ini, aku sesak, hatiku sakit, tapi apa dayaku? Aku bisa apa? Memang hanya ini yang bisa aku lakukan.

Berbagai alasan berkecamuk dalam kepalaku. Tentang bagaimana kau acuhkan aku, tentang bagaimana hubungan kita terbuang begitu saja. aku memilih, dan kau berubah kembali, menjadi orang yang sangat tidak ingin untuk aku ganggu. Aku menawarkan persahabatan, tapi bagimu itu hanyalah sia-sia saja. Entahlah, aku lelah memendam perasaan ini, kamu mau pergi lagi? Silahkan. Atau kau mau tetap tinggal? Jadilah sahabat terbaikku. Stay or Go, it's up to you. Bagaimana? Waktuku tak banyak :) Namun sekali saja aku ingin katakan, AKU MENYAYANGIMU.

Saturday, 31 May 2014

Kamu dan Tugas

Hari ini adalah hari terakhir dalam hitungan hari, namun awal dari hari di bulan juni. Aku sedang memikirkan bagaimana kelanjutan hidupku ke depan. Progres apa yang bisa kulakukan, hal apa yang akan terjadi esok, lusa dan seterusnya. Begitu banyak tugas yang siap menanti untuk aku kerjakan. Satu persatu tugas kucoba untuk selesaikan, begitu sulit kurasa. Namun aku selalu kembali pada prinsipku, "Make it easy, make it enjoy!". 

Hey sudah dua hari ini aku merasakan rindu yang tak tertahankan padamu, kekasihku. Dua hari yang kau tinggal tanpa kabar. Dua hari yang kau ukir untukku dalam kesendirian. Kemana kamu? Tidakkah kau rasa rindu? Kamu bilang akan memberiku kabar, kamu bilang kamu juga berat untuk menjalani hari tanpa aku. Tapi  ini yang terjadi. Lupakah kamu akan aku? Lupakah kamu jika kamu sedang tidak bersamaku? Tidakkah kamu kehilangan sesuatu?

Dua hal yang kini berkutat dalam otakku, kamu dan tugasku. Dua hal yang sungguh, sungguh menguras segala energi rasaku. Ah, mengapa begitu banyak hal yang berkutat dalam pikiranku. Tugas, harus kuselesaikan demi mencapai target minggu ini. Esok aku harus melakukan sebuah penelitian terhadap paper yang aku buat untuk ujian akhir yang diberikan bapak dosenku tersayang. 2 tahun lagi harus kujalani hari yang seperti ini, begitu disibukkan oleh tugas, dan kamu. Berbicara tentang kamu, kamu tahu bahwa aku sungguh sangat menyayangimu, aku selalu memberimu kabar walau sesibuk apapun hal yang aku lakukan. Begitu sulitkah untukmu melakukan hal yang sama? Bahkan ketika aku sedang mengerjakan tugasku pun, aku selalu menyempatkan waktu untukmu. Tak bisakah kau begitu?

Aku tak bermaksud untuk membuat kamu berubah, aku hanya khawatir jika kamu tak memberi kabar. Aku tak pernah bermaksud untuk posesif, tapi aku hanyalah wanita, ya wanita yang selalu menomorsatukan rasa. Begitu sensitif. Tahukah kamu begitu banyak hal yang aku pikirkan tentang kamu? Tentang bagaimana jika kamu berpaling, tentang bagaimana jika bukan hanya aku satu-satunya yang ada di hati kamu, dan lain sebagainya. Kamu pernah bertanya tentang keseriusanku, tidakkah kamu berpikir bahwa aku menjalani hubungan yang begitu serius dengan kamu? Bahkan sedetik pun aku tak pernah berpikiran untuk bermain-main denganmu. Berharap lebih? Ya kurasa aku terlalu banyak berharap dari kamu. Untuk itu aku ingin kamu mengerti.

Dan tugas, oh tugas.. Begitu suksesnya kamu membuat aku merasa tak berdaya, merasa penuh harapan yang tengah ada di ujung tanduk. Tidakkah kamu mengasihani aku tugas? Bisakah kamu sedikit bersahabat denganku? Tugas tugas dan tugas. Hhhh..

Tugas dan kamu, dua hal berbeda yang mempunyai satu kesamaan, yaitu, membuatku merasa aku bukanlah apa-apa.

Wednesday, 2 April 2014

?

2 hari ini kamu berubah
Entah apa yang membuatmu begitu
Adakah kesalahan yang aku perbuat?
Adakah kekhilafan yang tak ku ketahui?
Tolong jawab..

Aku di sini menunggu kabarmu
Namun sepertinya kamu lupa
Lupa akan kebahagiaan yang pernah kita buat
Dan hanya memikirkan secerca kesalahan yang kuukir

Aku sungguh tak mengerti dengan egomu
Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu
Apakah kita terlalu berbeda?
Apakah kita tak lagi sama?

Aku merindukanmu
Rindu rindu rindu
Tidakkah kau mengerti?
Tidakkah kau pahami?

Kumohon jawab aku..
Kumohon beri aku penjelasan..
Tentang apa yang membuatmu menjadi seperti ini
Tentang apa yang kamu rasakan karenaku

Jika aku menganggumu
Jika aku menyakitimu
Jika kamu tak ingin lagi ada aku
Aku akan pergi

Thursday, 23 January 2014

Kisahku Ingatanku dan Rasa Sakitku


Ini kisah tentang aku. Dan lagi aku mengalami hal seperti ini, mengingatkanku akan kejadian 3 tahun yang lalu. Berawal dari kesalahanku, yang kulakukan berbeda, namun berakibat yang sama. Sebenarnya aku tidak pernah bisa mengerti. Kenapa aku masih ingin menunggunya? Kadang aku berpikir, apakah pantas aku mempertahankan yang tidak pernah menghargaiku? Apakah pantas aku berjuang untuk orang yang tidak pernah memperjuangkanku? Terkadang aku merasa lelah dengan semua ini, lelah untuk menunggu, lelah untuk merasakan sesak yang menggemuruh di hati ini. Seandainya aku bisa memperlihatkan kesedihanku, airmataku. Seandainya. Ya, hanya seandainya. Sejak 3 tahun lalu, aku mulai takut untuk jatuh cinta. Takut untuk merasakan sakit kembali, takut untuk berjuang seorang diri.
Aku dan perasaanku yang selalu kalah, aku dan hatiku yang selalu terluka. Tidak pernah terlintas di dalam benakku untuk melakukan sebuah kesalahan, apalagi untuk menyakiti. Aku selalu mencoba mengerti, aku selalu mencoba untuk memperjuangkan cintaku. Tapi, mungkin sudah takdirku untuk belum dapat menikmati apa yang orang bilang kebahagiaan dalam cinta. Dia, dia dan dia yang pernah singgah dihatiku, merampas perasaanku, dan membawanya pergi tanpa pernah ada kepastian untuk kembali, selalu kucoba untuk bertahan, sekuat hatiku, sekuat aku mengalahkan logika oleh perasaanku. Sejauh yang kurasa, aku masih bisa berdiri di atas rasa sakitku. Namun, sampai kapan aku mengalah untuk perasaan yang selalu menguras daya dan pikiran?
Saat aku mencapai titik lelahku untuk berjuang, mungkin aku akan memutuskan untuk pergi. Aku tak ingin memulai kembali apa yang telah diakhiri. Setahuku, aku tak pernah menuntut apapun, aku tak pernah mengharuskan dia yang aku sayang untuk mengikuti apa yang aku mau. Lagi-lagi kodratku sebagai wanita yang hanya bisa menerima, yang entah sampai kapan aku menunggu. Saat semua kesalahan dilimpahkan padaku, saat cemoohan, makian terlontar untukku dari bibir orang yang kusayang, aku hanya bisa menerimanya, menerima segala keputusan yang menurutnya baik untuk kami berdua. Selalu begitu. Sebelumnya, aku yang selalu memutuskan untuk mengakhiri saat aku benar-benar tak bisa lagi untuk bertahan dan berjuang. Aku selalu merasa hanya aku yang selalu berjuang dalam suatu hubungan, selalu aku yang mengalah, selalu aku yang membiarkan hatiku terluka, tanpa Ia sadari.
Seandainya aku bisa berontak, bukan hanya kamu saja yang merasakan sakit ini, akupun merasakannya. Jauh lebih dalam dari yang kamu rasa, karena pada dasarnya, sisi kewanitaanku terlalu sensitif untuk terluka. Aku tidak menuntut agar kamu mengerti. Aku hanya mencoba mengajakmu untuk sama-sama belajar untuk memperbaiki diri dalam suatu hubungan. Tapi pada kenyataannya, kamu tidak mengerti. Kamu memutuskan untuk berubah, bukan menjadi yang lebih baik dalam hubungan, namun berubah menjadi orang asing yang tidak aku kenal. Sayang, aku lelah untuk berjuang seorag diri, aku lelah untuk bertahan di atas tumpuan yang sebenarnya tak mampu untuk menopang rasa sakitku. Kejadian yang terus berulang membuatku takut untuk berikrar kembali dalam hubungan. Kini, aku pergi, bukan berarti aku tak setia, bukan pula berarti aku tak lagi sayang, tapi aku lelah, lelah untuk bertahan, lelah untuk berpura-pura aku baik-baik saja. Aku hanya ingin merasakan untuk diperjuangkan, aku hanya ingin merasakan sebuah ketulusan. Kumohon maafkan segalanya dariku yang membuat hatimu terluka, demi cinta yang pernah kita rasakan berdua, dan jangan ingatkanku tentang rasa sakitku. Ingatan 3 tahun yang lalu.
Untuk kamu,
Orang yang kusayang.
x

Wednesday, 22 January 2014

Kodratku

Ada saatnya kita untuk berbicara, berdua, bukan dengan rangkaian kata-kata, tapi hati yang saling berkata. Apakah kamu tahu? Sebagai seorang wanita, sudah kodratku untuk menunggu kamu yang memulai segalanya. Tuntutanku sebagai seorang wanita, menerima. Namun, nyatanya memang ini jaman di mana segalanya tidak tergantung lagi dengan dan oleh siapa suatu hubungan dimulai. Aku, hanya ingin mempertahankan apa yang telah menjadi kodratku.

Sudah sejauh manakah kamu mengenalku? Aku rasa, mungkin kita belum benar-benar saling memahami dalam hubungan ini. Terlalu banyak kesalahpahaman yang menyebabkan hubungan yang kita jalani harus berakhir seperti ini. Saat aku menunggu kabar darimu, kamu pun melakukan hal serupa. Saat aku menunggumu untuk kamu ajak kencan, begitupun kamu, tetap melakukan hal serupa. Di antara kita, terlalu banyak gengsi untuk memulai segala sesuatunya. Aku tidak menyalahakanmu, dan, akupun tidak merasa bersalah. Hanya saja, ada hal yang aku sesali. Kenapa kita tidak mencoba untuk saling bicara?

Lagi, segala sesuatu dalam hubungan, harus ada jalinan komunikasi. Jujur, aku masih menyayangimu, dan saat aku ingin mengalah memulai segalanya, rupanya kamu sudah lelah. Jika boleh aku protes, akupun lelah, tapi aku mencoba untuk memperbaiki segalanya, walaupun pada akhirnya, kamu memutuskan untuk pergi.

Aku ingin bicara, mengeluarkan suara, aku ingin berteriak, aku ingin berkata bahwa aku sungguh tidak ingin akhir yang seperti ini. 3 minggu, dan hari ini harusnya genap satu bulan kita menjalin kasih. Bukankah terlalu cepat untuk mengambil keputusan? Tapi, apalah daya, aku hanya bisa mengikuti kodratku sebagai wanita, menerima. Hanya saja harapku, semoga kamu bisa belajar dari hubungan ini, menjalin hubungan yang lebih baik, walaupun bukan lagi denganku.



January 23rd 2014

Untuk kamu, December 23rd 2013.

Tuesday, 10 December 2013

SEUNTAI RASA 2

Jadi, beginikah kelanjutannya?
Atau semuanya sudah berakhir?
Jawablah..
Baik, seandainya hanya begini saja, mengapa tak kamu ambil semua rasa yang ada dalam hatiku?
Andai kamu tahu, rasa ini masih tersisa.
Sikap acuhmu membuatku tersadar akan satu hal.
Kamu tahu?
Aku sadar bahwa kamu tidak pernah menyukaiku.
Sedikitpun tidak.
Dan apakah kamu jauh ingin lebih tahu apa yang aku rasa?
Perih, sesak.
Andai tak pernah ada bohongmu
Tak pernah ada sentuhanmu
Tak pernah ada.. Ah entahlah apalagi tentang kamu
Aku tak ingin begini
Menyisakan rasa sakit
Bolehkah aku sedikit egois?
Aku hanya ingin kamu menjadi milikku
Salahkah itu ?
Jawablah...
Bibirku terlalu kelu untuk mengungkapkan rasa itu
Aku terlalu naif untuk memulainya
Dan aku tahu, sikapku ini sama saja dengan aku melepasmu
Kamu, mulai saat ini terbebas dariku
Tapi aku..
Mungkin tak akan pernah terbebas dari kamu
Entah untuk sementara atau dalam waktu yang lama
Sebenarnya aku tak pernah ingin kembali
Kembali bahagia dalam kebohonganmu
Kembali menyukaimu.

Monday, 9 December 2013

SEUNTAI RASA

Aku rindu kamu, sangat rindu.
Tapi akankah kamu tahu?
Akankah kamu merasakan hal yang sama denganku?
Rindu ini sangat menguras seluruh hatiku,
Memeras, dan bahkan mencekik tak tertahankan.
Kenapa kamu membuatku bahagia dengan kebohonganmu?
Dan kerapkali menjadi candu bagiku.
Ya, kehadiranmu seakan telah menjadi candu,
Membuat aku ingin dan terus ingin melihat dan berada di dekatmu.
Membuatku "sedikit" berharap, harapan yang semu mungkin.
Membuatku terbang melayang, namun dalam hitungan detik, jatuh tersungkur, sakit.
Sadarkah kamu betapa yang kamu lakukan sungguh manis namun menyakitkan?
Merayu, melihatku, tersenyum, tertawa, celoteh riangmu, ejekan, pelukan dan kecupan hangat di kening yang kamu berikan, itu sungguh membekas.
Bukan rasa ini yang salah, tapi caraku membiarkannya masuk begitu saja dan bertengger manis sepanjang waktu di relung hatiku.
Bisakah kamu ambil rasa yang kamu berikan padaku?
Sekarang, saat ini dalam sekejap mata.
Jika harus memilih, aku tak pernah ingin merasakannya.
Rasa yang orang menyebutnya dengan cinta.