Thursday, 23 January 2014

Kisahku Ingatanku dan Rasa Sakitku


Ini kisah tentang aku. Dan lagi aku mengalami hal seperti ini, mengingatkanku akan kejadian 3 tahun yang lalu. Berawal dari kesalahanku, yang kulakukan berbeda, namun berakibat yang sama. Sebenarnya aku tidak pernah bisa mengerti. Kenapa aku masih ingin menunggunya? Kadang aku berpikir, apakah pantas aku mempertahankan yang tidak pernah menghargaiku? Apakah pantas aku berjuang untuk orang yang tidak pernah memperjuangkanku? Terkadang aku merasa lelah dengan semua ini, lelah untuk menunggu, lelah untuk merasakan sesak yang menggemuruh di hati ini. Seandainya aku bisa memperlihatkan kesedihanku, airmataku. Seandainya. Ya, hanya seandainya. Sejak 3 tahun lalu, aku mulai takut untuk jatuh cinta. Takut untuk merasakan sakit kembali, takut untuk berjuang seorang diri.
Aku dan perasaanku yang selalu kalah, aku dan hatiku yang selalu terluka. Tidak pernah terlintas di dalam benakku untuk melakukan sebuah kesalahan, apalagi untuk menyakiti. Aku selalu mencoba mengerti, aku selalu mencoba untuk memperjuangkan cintaku. Tapi, mungkin sudah takdirku untuk belum dapat menikmati apa yang orang bilang kebahagiaan dalam cinta. Dia, dia dan dia yang pernah singgah dihatiku, merampas perasaanku, dan membawanya pergi tanpa pernah ada kepastian untuk kembali, selalu kucoba untuk bertahan, sekuat hatiku, sekuat aku mengalahkan logika oleh perasaanku. Sejauh yang kurasa, aku masih bisa berdiri di atas rasa sakitku. Namun, sampai kapan aku mengalah untuk perasaan yang selalu menguras daya dan pikiran?
Saat aku mencapai titik lelahku untuk berjuang, mungkin aku akan memutuskan untuk pergi. Aku tak ingin memulai kembali apa yang telah diakhiri. Setahuku, aku tak pernah menuntut apapun, aku tak pernah mengharuskan dia yang aku sayang untuk mengikuti apa yang aku mau. Lagi-lagi kodratku sebagai wanita yang hanya bisa menerima, yang entah sampai kapan aku menunggu. Saat semua kesalahan dilimpahkan padaku, saat cemoohan, makian terlontar untukku dari bibir orang yang kusayang, aku hanya bisa menerimanya, menerima segala keputusan yang menurutnya baik untuk kami berdua. Selalu begitu. Sebelumnya, aku yang selalu memutuskan untuk mengakhiri saat aku benar-benar tak bisa lagi untuk bertahan dan berjuang. Aku selalu merasa hanya aku yang selalu berjuang dalam suatu hubungan, selalu aku yang mengalah, selalu aku yang membiarkan hatiku terluka, tanpa Ia sadari.
Seandainya aku bisa berontak, bukan hanya kamu saja yang merasakan sakit ini, akupun merasakannya. Jauh lebih dalam dari yang kamu rasa, karena pada dasarnya, sisi kewanitaanku terlalu sensitif untuk terluka. Aku tidak menuntut agar kamu mengerti. Aku hanya mencoba mengajakmu untuk sama-sama belajar untuk memperbaiki diri dalam suatu hubungan. Tapi pada kenyataannya, kamu tidak mengerti. Kamu memutuskan untuk berubah, bukan menjadi yang lebih baik dalam hubungan, namun berubah menjadi orang asing yang tidak aku kenal. Sayang, aku lelah untuk berjuang seorag diri, aku lelah untuk bertahan di atas tumpuan yang sebenarnya tak mampu untuk menopang rasa sakitku. Kejadian yang terus berulang membuatku takut untuk berikrar kembali dalam hubungan. Kini, aku pergi, bukan berarti aku tak setia, bukan pula berarti aku tak lagi sayang, tapi aku lelah, lelah untuk bertahan, lelah untuk berpura-pura aku baik-baik saja. Aku hanya ingin merasakan untuk diperjuangkan, aku hanya ingin merasakan sebuah ketulusan. Kumohon maafkan segalanya dariku yang membuat hatimu terluka, demi cinta yang pernah kita rasakan berdua, dan jangan ingatkanku tentang rasa sakitku. Ingatan 3 tahun yang lalu.
Untuk kamu,
Orang yang kusayang.
x

Wednesday, 22 January 2014

Kodratku

Ada saatnya kita untuk berbicara, berdua, bukan dengan rangkaian kata-kata, tapi hati yang saling berkata. Apakah kamu tahu? Sebagai seorang wanita, sudah kodratku untuk menunggu kamu yang memulai segalanya. Tuntutanku sebagai seorang wanita, menerima. Namun, nyatanya memang ini jaman di mana segalanya tidak tergantung lagi dengan dan oleh siapa suatu hubungan dimulai. Aku, hanya ingin mempertahankan apa yang telah menjadi kodratku.

Sudah sejauh manakah kamu mengenalku? Aku rasa, mungkin kita belum benar-benar saling memahami dalam hubungan ini. Terlalu banyak kesalahpahaman yang menyebabkan hubungan yang kita jalani harus berakhir seperti ini. Saat aku menunggu kabar darimu, kamu pun melakukan hal serupa. Saat aku menunggumu untuk kamu ajak kencan, begitupun kamu, tetap melakukan hal serupa. Di antara kita, terlalu banyak gengsi untuk memulai segala sesuatunya. Aku tidak menyalahakanmu, dan, akupun tidak merasa bersalah. Hanya saja, ada hal yang aku sesali. Kenapa kita tidak mencoba untuk saling bicara?

Lagi, segala sesuatu dalam hubungan, harus ada jalinan komunikasi. Jujur, aku masih menyayangimu, dan saat aku ingin mengalah memulai segalanya, rupanya kamu sudah lelah. Jika boleh aku protes, akupun lelah, tapi aku mencoba untuk memperbaiki segalanya, walaupun pada akhirnya, kamu memutuskan untuk pergi.

Aku ingin bicara, mengeluarkan suara, aku ingin berteriak, aku ingin berkata bahwa aku sungguh tidak ingin akhir yang seperti ini. 3 minggu, dan hari ini harusnya genap satu bulan kita menjalin kasih. Bukankah terlalu cepat untuk mengambil keputusan? Tapi, apalah daya, aku hanya bisa mengikuti kodratku sebagai wanita, menerima. Hanya saja harapku, semoga kamu bisa belajar dari hubungan ini, menjalin hubungan yang lebih baik, walaupun bukan lagi denganku.



January 23rd 2014

Untuk kamu, December 23rd 2013.